Sebagai bagian dari forum data dan analytics terbesar di Indonesia, Lina Natalya, Head of Assessment KTM Solutions, hadir sebagai pembicara dalam Chief Data and Analytics Officer (CDAO) Indonesia 2026 yang diselenggarakan oleh Corinium Intelligence, di Jakarta 12/5.Â
Dalam sesi bertajuk “How Data is Turning Products into Innovation Catalysts“, Lina mengangkat sebuah pertanyaan yang semakin relevan bagi organisasi modern: Mengapa perusahaan yang memiliki data paling lengkap belum tentu mampu mengambil keputusan terbaik?
Pertanyaan tersebut muncul di tengah meningkatnya investasi perusahaan pada dashboard, analytics platform, hingga berbagai inisiatif data-driven transformation. Di banyak organisasi, data kini tersedia dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Akan tetapi di saat yang sama, persoalan seperti tingginya turnover, rendahnya engagement, hingga menurunnya loyalitas karyawan masih terus terjadi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan data saja tidak otomatis menghasilkan kualitas keputusan yang lebih baik. Organisasi membutuhkan strategi data yang mampu membantu pemimpin memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik angka-angka yang mereka lihat setiap hari.
Dashboard yang Sehat Belum Tentu Menunjukkan Organisasi yang Sehat
Dalam sesi tersebut, Lina mengawali pembahasannya dengan sebuah refleksi yang cukup provokatif:
“Does a Healthy Dashboard Really Mean a Healthy Organization?”
Pertanyaan ini menjadi relevan karena banyak organisasi cenderung menganggap dashboard sebagai representasi penuh dari kondisi bisnis. Ketika indikator operasional terlihat hijau, target tercapai, dan laporan menunjukkan performa yang stabil, organisasi sering kali berasumsi bahwa semuanya berjalan baik.
Padahal, realitasnya tidak selalu demikian. Tidak sedikit organisasi yang berhasil mencapai target bisnis, tetapi secara bersamaan mengalami penurunan semangat kerja, meningkatnya kelelahan karyawan, hingga hilangnya talenta-talenta terbaik secara perlahan. Risiko-risiko tersebut sering kali tidak langsung terlihat dalam laporan bulanan. Namun dampaknya dapat memengaruhi keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.
Inilah alasan mengapa strategi data tidak cukup hanya berfokus pada pengumpulan dan visualisasi informasi. Organisasi juga perlu memahami konteks manusia yang berada di balik data tersebut.
Mengapa Banyak Organisasi Terjebak pada Ilusi Data?
Salah satu insight penting yang dibahas dalam CDAO Indonesia 2026 adalah kecenderungan organisasi merasa cukup pada setelah melakukan pelaporan.
Banyak perusahaan telah berhasil membangun dashboard yang canggih, melakukan survei secara rutin, dan menghasilkan laporan yang kaya akan informasi. Namun dalam praktiknya, data sering kali hanya berfungsi sebagai dokumentasi atas apa yang sudah terjadi.
Padahal nilai strategis data terletak pada kemampuannya membantu organisasi memahami apa yang perlu dilakukan berikutnya.
Lina menjelaskan bahwa data baru menjadi aset strategis ketika memiliki struktur yang jelas, dapat diinterpretasikan, digunakan kembali, dan mampu mendorong perubahan yang relevan bagi bisnis. Dengan kata lain, data tidak cukup hanya menjadi arsip informasi. Data perlu berkembang menjadi arsitektur pengambilan keputusan yang membantu pemimpin menentukan prioritas, memahami akar masalah, dan mengidentifikasi intervensi yang paling tepat.
Di sinilah banyak organisasi mulai menghadapi tantangan. Organisasi kerap memiliki banyak data, tetapi belum memiliki mekanisme yang mampu menghubungkan data tersebut dengan tindakan yang nyata.
Data Assessment Perlu Berubah Menjadi Arsitektur Keputusan
Dalam konteks pengelolaan SDM, fenomena tersebut sering terlihat pada berbagai praktik data assessment dan employee survey.
Banyak organisasi menjalankan survei engagement, employee experience, maupun assessment secara rutin. Namun, setelah laporan selesai disusun, data tersebut sering kali berakhir sebagai dokumen laporan. Jarang digunakan kembali dalam proses pengambilan keputusan.
Padahal menurut Lina, employee experience survey seharusnya tidak lagi dipandang sebagai survei tahunan semata. Employee experience survey merupakan sebuah decision architecture yang membantu organisasi memahami hubungan antara perilaku manusia, produktivitas, retensi, dan pertumbuhan bisnis secara lebih sistematis.
Perspektif ini mengubah cara pandang terhadap data assessment. Tujuannya bukan sekadar mengetahui tingkat kepuasan karyawan atau mengukur kondisi organisasi saat ini. Yang lebih penting adalah memahami faktor-faktor apa yang perlu diperbaiki untuk menghasilkan perubahan yang diinginkan. Karena pada akhirnya, data assessment yang baik bukan hanya mampu menjelaskan kondisi organisasi, tetapi juga menunjukkan tuas perubahan yang perlu ditarik oleh para pemimpin.

Employee Experience Bukan Lagi Metrik HR, Melainkan Aset Strategis
Dalam banyak organisasi, employee experience masih sering diposisikan sebagai isu Human Resources (HR). Padahal dampaknya jauh melampaui fungsi HR itu sendiri. Lina menjelaskan bahwa organisasi saat ini tidak lagi cukup hanya memastikan karyawan bekerja dan menghasilkan output. Tantangan yang lebih besar adalah menciptakan kondisi yang membuat karyawan memilih untuk bertahan, berkembang, serta memberikan kontribusi yang melampaui ekspektasi formal pekerjaannya.
Melalui analisis terhadap ribuan responden, KTM Solutions menemukan bahwa terdapat tiga elemen utama yang membentuk kualitas engagement dalam organisasi.
Pertama, organisasi perlu membangun kebanggaan agar karyawan bersedia berbicara positif mengenai tempat mereka bekerja. Kedua, organisasi perlu menyediakan jalur pengembangan yang jelas agar karyawan memiliki alasan untuk bertahan. Ketiga, organisasi perlu menghadirkan makna dalam pekerjaan agar individu terdorong memberikan kontribusi lebih besar bagi organisasi.
Temuan ini menunjukkan bahwa employee experience bukan sekadar indikator kepuasan kerja.
Employee experience merupakan faktor yang memengaruhi employer branding, retensi talenta, produktivitas, loyalitas pelanggan, hingga profitabilitas bisnis secara keseluruhan.
Strategi Data yang Baik Membantu Pemimpin Melihat Apa yang Tidak Terlihat
Salah satu pembelajaran paling penting dari sesi ini adalah bahwa data yang baik tidak hanya menjelaskan kondisi saat ini. Data yang baik membantu organisasi melihat risiko sebelum risiko tersebut muncul sebagai masalah. Laporan memberikan cerita mengenai apa yang terjadi. Dashboard memberikan visibilitas terhadap pola yang muncul.
Akan tetapi, nilai tertinggi dari strategi data terletak pada kemampuannya membantu pemimpin menentukan area mana yang harus diprioritaskan dan tindakan apa yang perlu dilakukan terlebih dahulu.
Oleh karena itu, organisasi yang unggul bukanlah organisasi yang memiliki dashboard paling kompleks. Melainkan organisasi yang mampu mengubah insight menjadi lapisan pengambilan keputusan yang lebih cepat, akurat, dan relevan terhadap kebutuhan bisnis.
KTM Solutions Dorong Organisasi Membangun Strategi Data yang Berdampak
Melalui partisipasinya dalam CDAO Indonesia 2026, KTM Solutions menegaskan bahwa masa depan organisasi tidak ditentukan oleh seberapa banyak data yang dimiliki. Akan tetapi berdasarkan kemampuan membaca sinyal yang tepat di balik data tersebut. Di era ketika hampir semua organisasi memiliki akses terhadap teknologi analytics dan dashboard, keunggulan kompetitif justru lahir dari kemampuan memahami manusia, menghubungkan insight dengan konteks bisnis, serta menerjemahkannya menjadi keputusan yang lebih baik.
Karena pada akhirnya, organisasi tidak kehilangan daya saing karena kekurangan data. Tetapi organisasi akan kehilangan daya saing ketika terlalu fokus mengukur apa yang mudah dilihat. Namun gagal memahami faktor-faktor yang sebenarnya memengaruhi perilaku manusia dan kinerja organisasi dalam jangka panjang.
Bagi organisasi yang ingin memperkuat strategi data, mengoptimalkan pemanfaatan data assessment, serta membangun pendekatan employee experience yang lebih terukur, KTM Solutions menghadirkan solusi berbasis assessment, analytics, dan organizational development untuk membantu organisasi mengubah insight menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan.