Daftar Isi

Belajaraya 2026: Ketika Berani Bertanya Menjadi Kompetensi Langka

Belajaraya 2026 (KTM Solutions, 2026)

Daftar Isi

Tantangan hari ini semakin kompleks tentang bagaimana seseorang menjaga kesadaran manusia di tengah arus informasi. Isu ini menjadi topik hangat dalam sesi “Berani Bertanya, Berani Bercerita: Belajar Berpikir dan Berkarya dari Keluarga, Layar dan Iman” di Belajaraya 2026, Jakarta, 2/5. Sebagai moderator dalam sesi tersebut, Ivan Ahda, Director of Growth Strategy & Advisory (GSA) KTM Solutions, melihat bahwa percakapan bersama Quraish Shihab, Najwa Shihab, dan Ryan Adriandhy berkembang jauh melampaui isu pendidikan maupun kreativitas.

Percakapan justru mengarah pada pertanyaan yang lebih mendasar: Bagaimana keberanian berpikir seseorang terbentuk?

Belajaraya 2026: Budaya Bertanya Harus Dibentuk Sejak Awal

Dalam diskusi tersebut, Quraish Shihab menekankan bahwa bertanya dan berpikir kritis merupakan bagian dari fitrah manusia. Ia bahkan menegaskan skill tersebut menjadi bagian penting dalam tradisi keilmuan agama. “Dalam proses memahami Al-Qur’an maupun hadis, manusia didorong untuk terus bertanya, merenung, dan mencari makna secara mendalam” ungkapnya.

Sementara itu, Najwa Shihab menyoroti bahwa budaya bertanya sebenarnya dibangun dari lingkungan terdekat, terutama keluarga. Dalam keluarga Shihab, ruang diskusi dan keberanian mempertanyakan sesuatu menjadi bagian dari proses belajar sehari-hari. Perspektif tersebut menjadi semakin relevan di tengah kondisi saat ini, ketika generasi muda tumbuh dalam arus informasi digital tanpa henti.

Ryan Adriandhy juga menunjukkan bagaimana kreativitas lahir dari proses mempertanyakan sesuatu secara terus-menerus. “Ide dalam proses pembuatan film justru datang dari pertanyaan-pertanyaan kecil yang terus didiskusikan” ungkap Ryan. Dari pertanyaan itu perlahan muncul gagasan yang lebih besar dan mendatangkan keberanian mengeksplorasi kemungkinan baru yang sebelumnya tidak terlihat.

Bagi Ivan Ahda, refleksi dari Belajaraya 2026 tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis tidak lahir secara instan. Ia dibangun melalui kebiasaan bertanya, ruang refleksi, dan keberanian untuk terus menguji cara pandang sendiri.

Gambar 1. Najwa Shihab dalam Belajaraya 2026 di Taman Ismail Marzuki (Belajaraya, 2026).

Ketika Semua Orang Menjadi “Media”

Refleksi tersebut menjadi semakin penting di tengah kondisi hari ini, ketika akses informasi tidak lagi menjamin kualitas penilaian. Di era digital, hampir setiap orang kini berperan sebagai media. Semua orang dapat memproduksi opini, menyebarkan narasi, dan membentuk persepsi publik hanya dalam hitungan detik. Namun ironisnya, standar dalam menyampaikan informasi sering kali tidak berkembang secepat teknologi yang digunakan.

Najwa Shihab dalam sesi Belajaraya 2026 menekankan bahwa ketika setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan informasi. Namun standar yang digunakan juga perlu semakin mendekati standar media profesional seperti:

  • Melakukan verifikasi,
  • Memastikan kebenaran informasi,
  • Serta mempertimbangkan dampak dari apa yang disampaikan kepada publik

Dalam perspektif KTM Solutions, kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan pengembangan manusia mulai bergeser. Organisasi tidak lagi cukup hanya membangun technical capability atau mempercepat akses pengetahuan. Yang semakin dibutuhkan justru kemampuan menjaga kualitas judgement di tengah kompleksitas informasi dan tekanan perubahan yang terus bergerak.

Mengapa Berani Bertanya Menjadi Capability Strategis Menurut KTM Solutions

Refleksi dari Belajaraya 2026 menunjukkan bahwa keberanian berpikir seseorang tidak terbentuk secara instan. Kemampuan tersebut tumbuh dari lingkungan yang membiasakan manusia untuk bertanya, berdiskusi, menguji perspektif, dan memaknai sesuatu secara reflektif. Di tengah percepatan arus informasi, kemampuan tersebut justru menjadi semakin penting karena kualitas manusia dan organisasi tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang dimiliki. Tetapi juga tentang bagaimana mereka menjaga kualitas judgement dalam membaca perubahan.

Dalam perspektif KTM Solutions, kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan talenta tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan teknis atau percepatan akses pengetahuan. Organisasi juga perlu membangun kemampuan berpikir kritis, information literacy, komunikasi reflektif, hingga integritas berpikir sebagai fondasi pengembangan manusia dan kepemimpinan. Perspektif tersebut juga menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan melalui Global Competency Framework (GCF) KTM Solutions untuk membantu individu maupun organisasi tetap adaptif, reflektif, dan mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab di tengah perubahan yang terus berlangsung.

Views

Bagikan

KTM Solutions

Subscribe to the KTMSolutions.id Blog

Stay connected with KTMSolutions.id and receive new blog posts in your inbox.

Artikel Lainnya