Daftar Isi

Ketika Media Digital Menjadi Infrastruktur Pembelajaran

Media Digital (KTM Solutions, 2026)

Daftar Isi

Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan pendidikan hari ini bukan lagi tentang mengakses informasi. Namun tentang bagaimana informasi mampu berubah menjadi keterlibatan, kebiasaan, hingga gerakan sosial. Isu masa depan pembelajaran menjadi topik utama dalam sesi Ngobrol Publik #2 Belajaraya 2026 bertajuk “Media Alternatif, Ruang Belajar Baru: Dari Feed Jadi Gerakan”  di Kineforum Sjuman Djaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 2/5.

Diskusi ini menghadirkan Canva Indonesia, Foreword Library, dan Bank Indonesia, dengan KTM Solutions sebagai moderator diskusi. Dalam diskusi tersebut, KTM Solutions menyadari perubahan penting telah terjadi, “Proses belajar kini tidak lagi sepenuhnya terjadi di ruang formal, melainkan dapat berlangsung melalui ekosistem digital yang mampu menjadi wadah dalam membangun awareness hingga action” ungkap Ulfiyah Nanda, Social Impact Consultant KTM Solutions.

Ketika Feed Tidak Lagi Sekadar Konsumsi Informasi

Untuk sebagian pihak, media digital kerap dipandang sebagai ruang distraksi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran besar dalam perilaku publik pada generasi muda. Kini media sosial mulai memainkan fungsi yang lebih kompleks seperti membangun kesadaran, mempertemukan komunitas, distribusi pengetahuan, hingga mendorong aksi kolektif. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses belajar kini semakin bersifat organik, sosial, berbasis komunitas, dan berlangsung secara real-time.

Dalam konteks ini, keberhasilan sebuah kampanye edukatif tidak lagi diukur hanya dari jumlah impresi atau traffic, tetapi dari kemampuannya mengubah informasi menjadi partisipasi. Karena tantangan terbesar komunikasi publik hari ini bukan kekurangan informasi, melainkan bagaimana menciptakan relevansi yang cukup kuat untuk menggerakkan perilaku.

Dari Awareness Menuju Movement

Salah satu benang merah penting dalam diskusi adalah bahwa perubahan sosial tidak terjadi secara instan. Ia bergerak melalui tahapan yang sistemik:

Awareness → Engagement → Behaviour → Movement

Dan media digital memainkan peran penting pada setiap tahap tersebut. Pada tahap awal, media sosial efektif membangun awareness melalui konten yang ringan, visual, dan mudah dibagikan. Namun ketika audiens mulai terlibat, organisasi membutuhkan ruang interaksi yang lebih mendalam seperti komunitas, forum belajar, hingga activation program.

Di titik inilah media alternatif menjadi penting. Media digital dapat menjadi infrastruktur sosial yang memungkinkan publik dapat merasa saling terhubung, membangun identitas bersama, dan mempertahankan perubahan perilaku dalam jangka panjang.  Diskusi ini memperlihatkan bahwa organisasi yang berhasil membangun movement utamanya tidak berhenti pada kampanye digital, tetapi mampu menciptakan ekosistem partisipasi.

Gambar 1.  Ngobrol Publik #2 Belajaraya 2026 bertajuk “Media Alternatif, Ruang Belajar Baru: Dari Feed Jadi Gerakan” (Dokumentasi Belajaraya, 2026).

Peran Komunitas Digital sebagai Infrastruktur Pembelajaran Baru

Perspektif ini terlihat dari praktik yang dibagikan para narasumber.

Dari sisi komunitas, Foreword Library menunjukkan bagaimana ruang diskusi berbasis minat dapat berkembang menjadi medium pembelajaran alternatif. Olive Hateem menyampaikan bahwa Foreword Library mampu mempertemukan publik melalui percakapan, rekomendasi pengetahuan, hingga aktivitas komunitas.

Sementara itu, Canva Indonesia memperlihatkan bagaimana platform digital dapat menjadi medium pemberdayaan guru dan kreator pendidikan. Dalam sesi tersebut, Syerly Manarata sebagai Guru Duta Canva Indonesia menekankan bahwa guru hari ini tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi. Tetapi juga sebagai activator yang mampu menghubungkan pembelajaran dengan ruang digital yang lebih dekat dengan keseharian murid. Di sisi lain, orang tua murid juga jadi lebih proaktif terlibat dalam proses belajar anaknya.

Lebih lanjut, pendekatan Bank Indonesia memberikan contoh melalui kampanye Cinta, Bangga, Paham Rupiah. Fenty Tirtasari Ekarina menceritakan bahwa perubahan perilaku publik tidak dapat dibangun hanya melalui penyampaian informasi. Kampanye ini menekankan pentingnya membangun tiga dimensi secara simultan: 

  • Kedekatan emosional terhadap rupiah (cinta)
  • Rasa kepemilikan sebagai identitas nasional (bangga)
  • Serta pemahaman kognitif mengenai fungsi dan nilai rupiah (paham

Perspektif ini memperlihatkan bahwa komunikasi publik yang efektif bekerja bukan hanya pada level edukasi, tetapi juga pada pembentukan afeksi dan keterikatan sosial. Karena pada praktiknya, banyak organisasi mampu menyampaikan pesan, tetapi belum tentu berhasil membangun keterikatan yang mendorong publik untuk terlibat dan mengubah perilaku. 

Apa Artinya bagi Organisasi di Era Digital?

Diskusi Belajaraya 2026 memperlihatkan bahwa transformasi digital dalam pendidikan dan komunikasi publik bukan lagi sekadar persoalan teknologi. Tantangan utamanya adalah bagaimana organisasi membangun ruang partisipasi, ekosistem komunitas, dan sistem engagement yang berkelanjutan. Karena di era media digital, audiens tidak lagi hanya ingin menerima informasi saja. Audiens saat ini lebih kritis untuk merasa terlibat, memiliki ruang kontribusi, dan menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar.

KTM Solutions percaya, organisasi yang hanya fokus pada distribusi konten akan sulit menciptakan dampak jangka panjang. Sebaliknya, organisasi yang mampu mengintegrasikan teknologi, komunitas, behavioral insight, dan activation strategy akan lebih mampu membangun perubahan sosial yang berkelanjutan.

Views

Bagikan

KTM Solutions

Subscribe to the KTMSolutions.id Blog

Stay connected with KTMSolutions.id and receive new blog posts in your inbox.

Artikel Lainnya