Work Values adalah alat ukur untuk mengetahui nilai-nilai yang diyakini individu dapat memandu, menuntun, serta menjadi pendorongnya dalam bekerja.
30 Minutes
Work Values penting digunakan sebagai acuan mengeksplorasi diri untuk mengetahui nilai-nilai yang diprioritaskan individu dalam bekerja. Hasil Work Values dapat memberikan informasi terkait individu berupa:

30 Minutes

Values

Personality

Culture Fit, Development, Pre-Hire Screening

Bahasa Indonesia, English

Work Value Test (WVT) merupakan salah satu jenis tes yang dirancang dan dikembangkan oleh Talentics by KTM Solutions untuk mengukur nilai-nilai yang merupakan keyakinan dalam diri individu. Keyakinan tersebut digunakan untuk memandu, menuntun, serta menjadi pendorong individu dalam bekerja.
WVT merupakan kesatuan tes yang terbagi menjadi dua belas aspek. Sepuluh aspek pertama disusun berdasarkan teori dari Schwartz (1992) yaitu achievement, benevolence, conformity, enjoyment, power, self-direction, security, stimulation, tradition, dan universalism. Kemudian, berdasarkan penelitian mendalam yang dilakukan oleh Tim Asesmen Talentics, terdapat dua aspek tambahan yang banyak dimiliki oleh orang-orang di dunia kerja. Dua aspek tambahan milik Talentics by KTM Solutions tersebut adalah balance dan affiliation.
Work Value Test Talentics by KTM Solutions dirancang untuk mengukur nilai-nilai kerja pada individu yang terbagi ke dalam dua belas aspek, yaitu :
Total butir yang dimiliki WVT adalah sebanyak 65 butir dengan waktu pengerjaan maksimal 15 menit.
Pengukuran terhadap nilai-nilai yang dianut individu dalam bekerja dilakukan dengan cara self-report. Artinya, individu akan memberikan penilaian terhadap dirinya mengenai pernyataan-pernyataan yang ditampilkan pada tes. Individu dapat memilih enam pilihan respons.
Seluruh alat ukur Talentics by KTM Solutions telah dilengkapi dengan fitur untuk mendeteksi bentuk-bentuk perilaku yang bertentangan dengan harapan pada saat pengerjaan tes. Salah satu fitur yang tersedia adalah Indicator of Misbehavior. Indicator of Misbehavior digunakan untuk mendeteksi durasi dan frekuensi individu keluar dari laman tes untuk membuka laman/aplikasi lain selama proses pengerjaan tes. Meski demikian, penggalian informasi lebih lanjut terhadap informasi yang disajikan tetap disarankan agar lebih memahami faktor-faktor yang mendasari penilaian terhadap Indicator of Misbehavior (terutama pada hasil tes yang menunjukkan banyaknya indikasi Misbehavior yang terdeteksi).
Norma yang digunakan pada WVT diperoleh dari populasi lokal dengan sumber data lebih dari 1500 orang dari berbagai penjuru Indonesia. Berikut adalah kriteria populasi yang menjadi dasar penormaan WVT:
Berdasarkan uji validitas dan reliabilitas, Work Value Test milik Talentics by KTM Solutions memiliki besaran yang memenuhi kriteria, sehingga dapat dipercaya memiliki hasil pengukuran yang akurat. Dapat dikatakan bahwa alat tes ini terbukti dapat mengukur kompetensi individu dalam bekerja berdasarkan penilaian terhadap dirinya sendiri. Idealnya, akurasi dari hasil tes WVT dapat digunakan selama 18-24 bulan.
Bisa, namun alat ukur WVT tidak dapat dikonversikan sesuai kebutuhan/keinginan perusahaan. Adapun hal yang dapat dilakukan jika memiliki nilai-nilai khusus adalah dengan melihat kesamaan atau kemiripan antara nilai-nilai pada WVT dengan nilai-nilai perusahaan.
Informasi mengenai nilai yang dianut individu dapat dilihat dari tiga skor tertinggi pada aspek-aspek nilai di WVT. Tiga nilai teratas menandakan bahwa nilai tersebut merupakan nilai dominan yang menjadi motivasi atau dorongan individu dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam bekerja. Setiap nilai memiliki dampak yang berbeda-beda terhadap motivasi individu, bagaimana individu menjalin relasi, dan preferensi terhadap tugas atau lingkungan kerja. Oleh sebab itu, tidak ada nilai yang lebih baik atau lebih buruk antara satu dengan yang lainnya.
Pada dasarnya, WVT dirancang untuk menjadi salah satu sumber penilaian terhadap individu mengenai nilai-nilai yang merupakan keyakinan dalam diri individu. Hasil tes ini memang dapat memprediksi motivasi dan perilaku yang mungkin ditampilkan individu saat bekerja. Akan tetapi, tes ini tidak dapat memberikan informasi mengenai kemampuan kerja individu, sehingga tetap diperlukan pengukuran lain terhadap kemampuan kognitif, kompetensi, performa, maupun kepribadian individu. Selain itu, oleh karena sifat tes ini adalah self-inventory, maka tetap diperlukan adanya penilaian yang lebih bersifat objektif terhadap nilai yang dianut individu. Oleh sebab itu, pembacaan laporan oleh profesional serta penilaian melalui wawancara dan/atau behavior based assessment dapat digunakan untuk memperlengkapi penilaian kompetensi individu.